Saya sangat suka puisi, dulu sewaktu SMA saya sering bikin puisi. Tapi entah kenapa ya, saya kok hanya bisa bikin puisi yang sedih-sedih saja. Sedikit bocoran, saya ini tipe orang yang melankolis lho..(siapa yang peduli ya??). Berikut ini adalah kumpulan puisi yang saya comot dari internet juga sih, karena saya belum pede mencantumkan puisi-puisi saya.

Puisi pertama : Karena saya suka dengan sosok Gie, hati saya selalu berdesir ketika menghayati puisi ini. Semoga Anda suka..

Mandalawangi
‘Gie’

Senja ini,
ketika matahari turun kedalam jurang2mu
aku datang kembali
kedalam ribaanmu,
dalam sepimu dan dalam dinginmu

walaupun setiap orang berbicara
tentang manfaat dan guna
aku bicara padamu
tentang cinta dan keindahan
dan aku terima kau dalam keberadaanmu
seperti kau terima daku

aku cinta padamu, Pangrango yang dingin dan sepi
sungaimu adalah nyanyian keabadian tentang tiada
hutanmu adalah misteri segala
cintamu dan cintaku adalah kebisuan semesta

malam itu ketika dingin
dan kebisuan menyelimuti Mandalawangi
Kau datang kembali
Dan bicara padaku tentang kehampaan semua

“hidup adalah soal keberanian,
menghadapi yang tanda tanya “tanpa kita mengerti,
tanpa kita bisa menawar
‘terimalah dan hadapilah

dan antara ransel2 kosong
dan api unggun yang membara
aku terima ini semua
melampaui batas2 hutanmu,
melampaui batas2 jurangmu

aku cinta padamu Pangrango
karena aku cinta pada keberanian hidup

Jakarta,19-7-1966

Puisi Kedua : Jenggala Berbisik ini adalah puisi yang lumayan panjang namun isinya sangat menarik dan membangkitkan jiwa. Betapa kehidupan haruslah penuh dengan “kepedulian dan kasih sayang”. Itu saja yang harus dilakukan, tapi mengapa ya manusia sulit malakukannya??

Jenggala Berbisik

—-
kawan pernahkan kau mengerti isi hatiku
pernahkan kau tahu keinginanku
yang harus kau tahu tak banyak keinginan
karena aku memang ditakdirkan seperti ini

pernah kubisikan hasrat hatiku ini
pada sahabat yang bisa mengerti aku
pada kawan yang selalu ingin belajar
padanya kuceritakan pintaku

boleh aku meminta kalian tak membawa bencana padaku
bisakah kalian tak membawa barang-barang yang meracuniku
maukah sebentar saja untuk hidup secara alami
berkenankah sejenak untuk hidup menyatu denganku

aku berharap kalian tak akan tersiksa
aku yakin tak akan menyakitimu
aku percaya karena kalian mahluk yang paling sempurna
aku tahu karena itu sudah menjadi takdirku

pernahkah aku berbuat jahat padamu
hingga kau balas dengan menyakitiku
padahal aku tak diciptakan seperti itu
atau karena aku tercipta untuk memenuhi kebutuhan kalian

jangan salahkan aku bila terjadi bencana
jangan maki aku saat badai menerjang
janganlah vonis aku saat bumi meradang
aku hanya menjalankan takdirku saja

apa yang kalian perbuat padaku
maka itulah yang akan kalian terima dariku
tak pernah terbersit dendam dalam diriku
tak ada kata sakit hati dalam penciptaanku

bila kalian menyakiti aku
tak hanya aku yang akan tersiksa
tapi sahabat-sahabat baik-ku
juga kalian dan sahabat-sahabat kalian
karena semua bernama kehidupan

kawan pernahkan kau mengerti isi hatiku
pernahkan kau tahu keinginanku
yang harus kau tahu tak banyak keinginan
karena aku memang ditakdirkan seperti ini

pernah kubisikan hasrat hatiku ini
pada sahabat yang bisa mengerti aku
pada kawan yang selalu ingin belajar
padanya kuceritakan pintaku

boleh aku meminta kalian tak membawa bencana padaku
bisakah kalian tak membawa barang-barang yang meracuniku
maukah sebentar saja untuk hidup secara alami
berkenankah sejenak untuk hidup menyatu denganku

aku berharap kalian tak akan tersiksa
aku yakin tak akan menyakitimu
aku percaya karena kalian mahluk yang paling sempurna
aku tahu karena itu sudah menjadi takdirku

pernahkah aku berbuat jahat padamu
hingga kau balas dengan menyakitiku
padahal aku tak diciptakan seperti itu
atau karena aku tercipta untuk memenuhi kebutuhan kalian

jangan salahkan aku bila terjadi bencana
jangan maki aku saat badai menerjang
janganlah vonis aku saat bumi meradang
aku hanya menjalankan takdirku saja

apa yang kalian perbuat padaku
maka itulah yang akan kalian terima dariku
tak pernah terbersit dendam dalam diriku
tak ada kata sakit hati dalam penciptaanku

bila kalian menyakiti aku
tak hanya aku yang akan tersiksa
tapi sahabat-sahabat baik-ku
juga kalian dan sahabat-sahabat kalian
karena semua bernama kehidupan

Puisi Ketiga

Mari Kita Berjanji…

Satu masa telah berlalu

Seperti masa lain yang takkan pernah kembali

Meninggalkan atau ditinggalkan

Mengganti langkah yang sudah kita jalani

mengganti keindahan yang memang akan berakhir

Juga kepedihan dan pengorbanan


Jika saja ia mampu berkata

pasti akan ada senyum, airmata juga tawa bahagia

Jalan masih panjang bagi yang ingin melangkah

Langkah menuju `Adn belum terlihat bahkan


Sekarang di sinilah kita, di awal jalan sesungguhnya

Di belakang ketidakpastian, di depan kenangan

Tidak ada jalan lain, kaki ini harus terus melangkah…..

Melangkahlah saudaraku, tembuslah kegelapan dihadapanmu

Hadapi dengan keberanianmu, dengan semangatmu, dan ketakutanmu

Jangan pernah berhenti, walau berat, walau panas, walau pedih

Lupakanlah yang ingin kau lupakan, tinggalkan yang perlu kau tinggalkan


Tapi jangan berhenti……..

Singkirkan keraguanmu, sebab kita di sini bukan untuk mundur

Singkirkan ketakutanmu, sebab kita menjalani ini semua bukan untuk lari

Kita disini untuk meraih kemenangan, kita di sini untuk meraih janji sang Tercinta

kembalilah ke pelukan Rabbmu, saat senang, saat lelah. Carilah kebersamaan itu.

Jangan pernah berhenti saudaraku, dimanapun kamu, sesulit apapun

Ingatlah selalu ada tempat kembali, tempat pulang yang indah

Wajah saudara kita, tawa mereka, senyum mereka,
marah mereka, kesal mereka….


Mungkin di dunia ini kita memang tidak lagi akan bersama,

tidak lagi bersua kecuali sedikit

Tapi mari kita membuat janji,

Janji untuk terus melangkah, walau harus merangkak

Janji untuk terus menembus kegelapan, walau penuh luka

Janji untuk terus berada dalam cita – cita kita, dalam impian kita

Sampai nanti kita harus berhenti, karena kaki ini tidak sanggup lagi bergerak

Sampai Nanti kita kembali kepada sang Tercinta, dan bersua di Jannah-Nya

Sampai kita bisa membagi cerita perjalanan kita di taman terindah di tepi sungai

Bersama dengan seluruh saudara kita, tertawa, bahagia,
tiada duka lagi, tiada kepedihan yang tersisa.

Puisi Keempat

MALAM
(Rabiah Adawiyah)


Bintang di langit gemerlapan
Orang telah bertiduran
Pintu-pintu telah ditutup
Pecinta telah menyendiri

Ketika aku ada di hadirat-Mu
Sampai fajar menyingsing
Siang segera menampakkan diri
Aku gelisah soal amalanku

Bila diterima aku bahagia
Bila ditolak aku sedih
Demi kekuasaan-Mu
Kau beri aku kehidupan

Jangan usir aku dari pintu-Mu
Aku tak akan pergi
Karena cintaku kepada-Mu
Telah memenuhi lorong hatiku

***


Puisi Kelima

ANAK PANAH
(Tuhfah)


Anak panah kesedihan
Tepat mengenai kalbuku
Dimana belenggu
Kemurunganmu menjebakku
Berapa banyak lagi
Anak panah kau lepaskan
Ke kalbuku yang murung
Sampai kapan aku terbelenggu
Bawakan rantai belenggu
Kemudian sebuah ruangan sel
Kegelisahan dalam relung kalbu

***

Karya : Ali bin Abi Thalib

http://muharis.multiply.com/photos/hi-res/upload/RTXCpgoKCqgxxGAAdfsq

Diposting oleh rafiud pada 7 April 2008